UTA MAJU, Dendeng Kijang Khas Bima

Kijang

UTA MAJU (umumnya) adalah dendeng kijang (jenis rusa atau menjangan). Ada juga yang menyebutnya “Uta Kalawe” atau “Purupela Maju“. Sebenarnya Uta Maju tidak “khas” Bima banget, karena ada juga di Dompu dan Sumbawa, bahkan di daerah lain dengan nama yang berbeda.

Kijang merupakan jenis rusa (menjangan), dulu banyak di hutan dan menjadi binatang buruan. Hampir tidak ada yang beternak kijang, mungkin karena sulit diternak. Pulau Moyo (termasuk wilayah Kabupaten Sumbawa, namun dekat dengan Bima maupun Dompu) adalah habitat kijang yang terkenal. Pulau ini sempat menjadi taman berburu Internasional karena banyaknya populasi kijang di sana, tetapi sekarang sudah menjadi daerah suaka. Selain di pulau Moyo, kijang juga masih terdapat di hutan-hutan, walaupun semakin sedikit.

Dendeng Rusa / Kijang

Saat ini, meskipun langka dan tidak selalu tersedia, UTA MAJU masih dijual orang (tertentu). Harganya tentu saja cukup tinggi, sekitar Rp 260.000,- / Kg dalam bentuk dendeng “setengah” kering (masih perlu dijemur lagi). Uta Maju ini sudah melalui proses pengawetan dengan garam, namun belum bisa dikirimkan dalam bentuk paket (masih bau dan akan rusak di jalan). Jadi kalau untuk dikirimkan atau dibawa sebagai oleh-oleh, masih perlu diproses dulu, yaitu: (1) dijemur hingga kering, (2) dibakar, (3) ditumbuk sampai keluar serat-serat dagingnya (kalau tidak, dendeng kijang ini sangat keras, hampir tidak bisa dimakan). Setelah ditumbuk, kemudian (4) disuwir-suwir. Hasilnya, dari 1 Kg dendeng mentah akan menjadi sekitar 600 gr saja (menyusut 40%).

Biaya Proses

Harga dendeng kijang yang disebutkan di atas (Rp 260.000,-) adalah harga di tingkat penjual, perlu ditambah ongkos untuk membeli/ mendapatkannya (sekitar Rp 25.000,-) sehingga harga perolehan 1 Kg dendeng kijang digenapkan menjadi Rp 300.000,- (Oya, kita juga tidak bisa membeli banyak, selain karena tidak tersedia dalam jumlah banyak –kata penjualnya bagi-bagi dengan orang lain– juga karena 1 Kg itu sudah cukup banyak. Dendeng kijang ini “asin” karena diawetkan dengan garam, sehingga makan sedikit saja sudah cukup terasa/ menghabiskan nasi yang banyak 🙂

Sebelum bisa dikonsumsi atau dikemas, UTA MAJU diproses dulu dengan empat tahap proses di atas (dijemur, dibakar, ditumbuk, disuwir). Proses ini membutuhkan waktu sekitar 3-4 hari (yang lama di proses penjemuran). Untuk itu kita hargakan biaya proses sebesar Rp 100.000,-

Nah jika UTA MAJU ini ingin dipaketkan, tinggal ditambah biaya packing dan ongkos kirim. Untuk pengiriman ke Jakarta, biaya packing dan ongkos kirim sekitar Rp 50.000,-

Lumayan juga ya, harga kepingin merasakan UTA MAJU menjadi Rp 450.000,-

Cara Masak

Umumnya UTA MAJU yang telah disuwir dimasak dengan cara ditumis atau digoreng kering. Sebelum dimasak, sebaiknya UTA MAJU direndam dulu dengan air asam agar tidak asin.

Uta Maju Goreng, tampak lebih coklat karena direndam air asam (by Nurul, Bogor)
Uta Maju Goreng Kering (by Furqan, Tenggarong)
Uta Maju Tumis (by Eny Rukian, Bima)

Sebenarnya, daging kijang yang masih segar bisa dimasak apa saja seperti daging lainnya. Kalau di Bima, yang terkenal adalah “Kagape Maju” (seperti gulai, tapi berbeda). Rasa daging kijang yang khas –beda rasa dengan daging sapi, kerbau, atau kambing– terutama aromanya, sungguh tidak bisa diceritakan. Sayangnya, daging kijang segar sulit didapatkan. Khabarnya kita harus pesan khusus kepada pemburunya agar membawa pulang daging segar. Umumnya, karena pemburu masuk hutan yang jauh sehingga tidak cepat kembali, daging kijang yang dibawa pulang sudah diawetkan (kijang hasil buruan atau perangkap langsung disembelih).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *